TANASE.ID – PWNU Maluku memastikan keikutsertaan dalam Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama Tahun 2026 di Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Kediri. Delegasi Maluku hadir dengan pembagian peran pada sejumlah komisi penting, mulai dari Bahtsul Masail, organisasi, program, hingga rekomendasi.
AMBON,TANASE.ID — Dari Maluku, barisan pengurus Nahdlatul Ulama bersiap menuju forum besar jamiyah. Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama Tahun 2026 bukan sekadar pertemuan formal para pengurus. Forum ini menjadi ruang strategis untuk membaca tantangan zaman, menguatkan tata kelola organisasi, serta merumuskan sikap keagamaan dan kebangsaan NU.
Agenda nasional tersebut akan berlangsung pada Sabtu hingga Senin, 05–07 Muharram 1448 Hijriah atau bertepatan dengan 20–22 Juni 2026 Masehi. Kegiatan dipusatkan di Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Jalan Raya Mojo 102, Ploso, Mojo, Kediri, Jawa Timur.
PWNU Maluku menyatakan dukungan penuh terhadap suksesnya pelaksanaan Munas Alim Ulama dan Konbes NU 2026. Kehadiran delegasi Maluku menjadi bagian dari ikhtiar memperkuat kontribusi NU dari wilayah kepulauan, sekaligus memastikan pengalaman, pandangan, dan aspirasi umat dari kawasan timur Indonesia ikut mewarnai forum nasional tersebut.
Delegasi PWNU Maluku yang ikut serta dalam kegiatan ini terdiri dari Rais Syuriyah KH. Abdul Rahman Tuanaya, Lc; Katib Syuriyah TGH. Chairuddin Talaohu, Lc; Ketua Tanfidziyah Dr. H. Yamin, S.Ag., M.Pd.I; Wakil Ketua Tanfidziyah H. Abdul Karim Rahantan, S.Ag., M.H; Sekretaris Tanfidziyah Syahrir Rumluan, S.Fil.I; serta Ketua LDNU Maluku KH. Erwin Notanubun, S.Th.I., M.Hum.
Masing-masing delegasi membawa peran dalam komisi yang berbeda. KH. Abdul Rahman Tuanaya, Lc, selaku Rais Syuriyah, bertugas pada Komisi Bahtsul Masail Waqi’iyah. TGH. Chairuddin Talaohu, Lc, selaku Katib Syuriyah, berada pada Komisi Bahtsul Masail Maudlu’iyah. Sementara KH. Erwin Notanubun, S.Th.I., M.Hum, selaku Ketua LDNU Maluku, mengikuti Komisi Bahtsul Masail Qonuniyah.
Di luar forum Bahtsul Masail, Dr. H. Yamin, S.Ag., M.Pd.I, Ketua Tanfidziyah PWNU Maluku, mengambil peran pada Komisi Organisasi. H. Abdul Karim Rahantan, S.Ag., M.H, Wakil Ketua Tanfidziyah, bertugas pada Komisi Rekomendasi. Adapun Syahrir Rumluan, S.Fil.I, Sekretaris Tanfidziyah PWNU Maluku, mengikuti Komisi Program.
Pembagian peran ini menunjukkan keseriusan PWNU Maluku dalam mengikuti seluruh pembahasan penting pada forum nasional NU. Setiap komisi memiliki bobot strategis, baik dalam merumuskan sikap keagamaan, memperkuat organisasi, menyusun arah program, maupun menghasilkan rekomendasi yang bersentuhan langsung dengan kepentingan umat dan bangsa.
Sesuai ketentuan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, setiap PWNU mendelegasikan enam peserta berdasarkan Surat Keputusan PBNU yang berlaku. Delegasi tersebut terdiri dari Rais, Katib, Ketua, Sekretaris, serta dua peserta Bahtsul Masa’il. Surat mandat peserta ditandatangani oleh Rais, Katib, Ketua, dan Sekretaris, kemudian disampaikan kepada PBNU melalui aplikasi Digdaya Persuratan.
Dalam Komisi Organisasi, forum akan membahas Rancangan Perkum tentang Platform Digdaya, Rancangan Perkum tentang Tata Kelola Tambang, serta Usulan Perubahan AD/ART NU. Pembahasan ini menjadi penting karena menyangkut penguatan sistem organisasi, tata kelola kelembagaan, dan penyesuaian aturan dasar NU dalam menghadapi perkembangan zaman.
Sementara itu, Komisi Program akan membahas penyusunan roadmap atau peta jalan NU untuk 25 tahun ke depan. Materi lainnya mencakup sinergi Renstra dan Program Strategis Nasional, serta standarisasi kurikulum Aswaja dalam kaderisasi badan otonom Nahdlatul Ulama. Agenda ini menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan kaderisasi dan arah gerakan NU di masa mendatang.
Adapun Komisi Rekomendasi akan menyoroti isu-isu strategis yang dekat dengan kehidupan umat. Di antaranya peningkatan kualitas lembaga pendidikan berbasis masyarakat berkelanjutan, tata kelola MBG yang adaptif dan inklusif terhadap pesantren, serta Dana Abadi Pesantren untuk memastikan keadilan pendanaan dan keberlanjutan pengembangan pesantren.
Bagi PWNU Maluku, Munas Alim Ulama dan Konbes NU 2026 merupakan momentum penting untuk memperkuat khidmat NU di daerah. Maluku, dengan karakter kepulauan dan keragaman sosialnya, memiliki pengalaman panjang dalam merawat harmoni, memperkuat pendidikan keagamaan, dan menjaga kehidupan masyarakat yang damai.
Dari Ploso, Kediri, NU kembali menata langkah. Dari forum para ulama dan pengurus, arah organisasi dibicarakan dengan serius. Dan dari Maluku, semangat khidmat itu ikut bergerak, membawa suara umat dari timur Indonesia untuk kemaslahatan jamiyah, bangsa, dan peradaban.(asa)






